Laskar Banda Raya Official Blog

Tempat bertemu dengan rakan Banda Aceh dan Aceh Besar !


REBLOGGED FROM: ZamerSeven's Blog [zamerseven.wordpress.com]


Kenangan akan terus meninggalkan jejaknya dalam hidup seseorang. Kadang terselip antara raungan khas kesedihan, kadang dia menyeruak di tengah sorak-sorai kegembiraan, bahkan dia membisik ketika sedang duduk sendiri jauh dari keramaian. Seperti Ramadhan yang saban tahun selalu dirayakan.
***
Dalam kurikulum pelajaran di pondok pesantren saya, ada sedikit perubahan mata pelajaran yang menggembirakan tahun kemarin. Beberapa pelajaran membuat saya penasaran. Salah satunya Ilmu Falak. Cabang pengetahuan untuk menghitung perubahan gerak palnet-planet dan bintang untuk kemudian digunakan dalam mempermudah kehidupan manusia sehari-hari. Manusia, khususnya muslim. Bagaimana rasanya membilang rumus benda-benda angkasa luar ? Memikirkannya semakin membuat saya penasaran…
Komplek Pesantren Darul Ulum [17:45 pm]
Setelah Asar, iseng saya mengunjungi seorang teman yang sedang menghitung imsakiyah di kamarnya.
 ”How’s your imsakiyah, brother?” ujar saya pada Iskandar.
It’s almost done.“jawab nya, “How about yours?
Mine? I haven’t touched it yet. I’ll finish it soon” jawab saya, lalu pergi meninggalkan Iskandar, kembali menuju kamar tidur saya sendiri. ”You better finish it soon before limit time or you will be punished!” teriak Iskandar. Saya terus berlalu tak menghiraukannya.
Sudah setahun sejak saya pertama kali bergumul dengan cabang ilmu tersebut. Diajak untuk menghitung dengan rumus-rumus rumit mendebarkan. Lambang-lambang matematika berkeliaran kesana-kemari tiap saya mengetuk jari-jari saya pada tombol-tombol kalkulator. Saya pun mulai bisa mengeja arah kiblat hanya dengan menggunakan bantuan cahaya matahari dan sebilah tongkat yang biasa disebut istiwa. Menyadarkan saya bahwa masih banyak hal-hal ajaib lainnya jika kita mau sedikit saja menjelajahi lebih dalam sudut-sudut pengetahuan.
Kali ini, pengetahuan itu mengajak saya untuk mengejanya lebih sukar. Untuk pertama kali dalam hidup saya, imsakiyah menjadi titik perhatian aktifitas. Pernahkah memikirkan bagaimana hitungan tepat seorang falakiah bisa mempengaruhi sah atau tidaknya jadwal berbuka puasa seluruh umat ? Untuk itu saya pun diajarkan bagaimana menghitung awal waktu tiap alat lima waktu. Mencoba mencerna bahwa satu derajat posisi matahari yang melenggok di langit sana bisa mempengaruhi perbedaan waktu antara beberapa daerah di bumi. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menghitung awal waktu 5 waktu salat sehari semalam selama satu bulan berjalan. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi untuk menghitungnya menggunakan rumus-rumus bertingkat. Teman-teman saya mungkin merasa heran ketika waktu tenggat tinggal beberapa hari lagi tapi saya belum menghitung imsakiyah satu waktu pun.
Dua minggu menuju hari pengumpulan imsakiyah [11:12 pm]
Malam ini sunyi. Para santri kebanyakan telah lelap. Sebagiannya lain memilih bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik agar tak tertangkap bagian keamanan. Saya sendiri tengah duduk sendirian di bawah pohon mangga berukuran sedang yang tumbuh di depan asrama. Buku Biologi boleh melarang siapa saja untuk tidak duduk di bawah pohon pada malam hari, tapi tidak dengan saya. Yang penting merasa cukup nyaman dengan suasana sekitar. Terdengar sekilas bacaan Al-Quran dari masjid di sekitar komplek. Irama nya membawa saya kembali ke halaman rumah saya di kampung sana. Pelan, saya merasa sedang mengenakan kopiah dengan posisi miring, selembar kain sarung yang saya ikat di leher untuk mengurangi dingin, celana pendek dan sepasang sandal jepit. Saya tidak sendiri. Bersama lima rekan, kami pergi ke mushalla kecil yang biasa kami sebut Bale’ beut. Bahasa daerah saya untuk menyebut rumah panggung yang biasa digunakan mengaji. Dengan semangat Ramadhan kami menghidupkan mikrofon TOA yang berdebu dantilawah hingga larut. Kadang disertai dengkuran beberapa teman yang tertidur karena sudah lelah mengaji.
Mengenang nya membuat saya terkekeh. Bahkan setelah waktu 5 tahun dan jarak luas yang memisahkan, kenangan itu masih saja muncul dan mengibur. Seperti menyadarkan saya bahwa, kenangan itu akan terus ikut berpacu di belakang waktu dalam batasan jarak yang telah ditentukan oleh Sang Penentu. Terkadang dia tertinggal karena hal-hal lain yang lebih penting dipikirkan. Maka jadilah ia terlupa. Tapi secepat apapun waktu, ia perlu beristirahat. Di malam yang sunyi misalnya ketika waktu melambat, kenangan bisa saja hadir membelai. Di antara waktu dan jarak yang memisahkan terselip kenangan yang terlupakan.
Kenangan indah saya tentang Ramadhan terusik ketika mengingat tugas imsakiyah yang belum saya kerjakan. Mungkin alasan terbesar kenapa saya belum mengerjakan nya adalah itu. Menunggu waktu yang tepat? Tidak. Saya ingin menikmati bagaimana menghitung waktu-waktu Ramadhan bisa membawa saya ke kenangan-kenangan terindah dalam hidup. Bukankah peraturan belajar nomor satu adalah menikmati, bukan merasa tersiksa ?
***
Next day…
Iskandar: Hey brother, I’m about to finish, how’s your imsakiyah? Me: Hm… I’ve registered it to Ustad this morning | Iskandar: This morning? | Me: Yes, indeed..
IMG


When I went home from my campus in afternoon, I walked accross the brigde. But, I felt the sun was not like usual. It's warm, bright and clear. I took my camera and take it. A sunset picture.
It remind about 'home'. Our real 'home'. The hereafter. The sun rise, move, walk at the sky, and by degrees set in the end. Our life is like that. We were born and grow : kid, teen, adult, became an old man and die in the end. We must think that our 'home' is waiting for us. We must prepare ourself. Prepare for the questions, for our God, for the hereafter, and for 'The Home'
New to The Daily Post? Whether you’re a beginner or a professional, you’re invited to get involved in our Weekly Photo Challenge to help you meet your blogging goals and give you another way to take part in Post a Day / Post a Week. Everyone is welcome to participate, even if your blog isn’t about photography.

Malam itu aku baru aja kembali dari rumah ke dayah setelah mengobati gigi yang sedang sakit. Begitu aku melangkah ke arah pintu gerbang aku melihat sesosok lelaki yang sedang mengais tong sampah di depan pintu gerbang. Seorang pemulung. Hal yang biasa.

Biasa?

Tidak. Malam itu aku merasa tidak merasa biasa. Pemandangan itu sedikit mengusik hati. Lelaki itu hanya mengenakan celana kain hitam pendek, baju kaos lengan pendek, bertopi hitam membawa sebuah karung besar setengah terisi aqua gelas dan sebuah lampu senter kecil. Di malam yang dingin seperti ini tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari aqua bekas pakai. Mencari sesuap nasi. Apakah dia mengambil semuanya? Oh kawan! dia menyisakan sedikit botol aqua gelas di dalam tong sampah. Tidak serakah walau kekurangan. Subhanallah..

Adalagi cerita lain tentang penyapu jalanan di depan dayah ku. Seorang penyapu jalanan yang terdaftar bekerja pada Pemda Banda Aceh. Aku tahu dari baju 'dinas' yang dikenakannya. Bagian depan dayahku itu  termasuk luas. 100 m? Sepertinya lebih. Aku tidak pernah menghitung pasti. Menyapu seluruhnya tentu sangat melelahkan. Namun tidak bagi penyapu jalanan yang satu ini. Dia dengan tekun menyapu setiap helai daun yang berguguran atau sampah-sampah di jalanan setiap pagi.

Namun suatu hari ada sebuah hal yang buat aku terkejut.

Ahh...

Emang yang namanya 'milik sendiri' itu nikmat banget. Kalau ditinggal bikin rindu. Kalau selalu jumpa pun gak pernah bosenin. Kayak blog aku ini. Memang ya, nggak pernah posting itu nyiksa banget, apalagi udah berbulan-bulan. Walaupun nggak pernah ada yang buka, yang penting ini blog milik aku sendiri *miris. Jadi aku cuma lampiasin rindu itu dengan tulis alamat blog aku ini di segala tempat. Ya, di segala tempat. Di dinding, buku tulis, buku paket, papan ujian bahkan di kartu ujian.

Jadi, aku cuma pengen curhat gak jelas aja di sini *yah, namanya juga rindu. ;)

Tahu gak sekarang lagi ujian, sob ? Tahu gak ? Tahu gak ? Gak tahu kan. Wahahaha (ketawa setan) *Jadi gue harus bilang WOW gitu ? (-__-). Yak... lanjut. Gini, ada beberapa kebiasaan yang aku lakukan kalau lagi ujian. Setiap semester. Ada kebiasaan sebelum ujian, ada kebiasaan pas waktu ujian, dan juga kebiasaan abis ujian.

Sebelum ujian
Pertama, banyakin mandi. Menurut yang aku baca di internet (alamatnya lupa), ternyata... mandi itu bikin badan seger. *A'la... semua juga tahu -_-. Karena itu, aku berusaha menjaga kesegaran tubuh supaya belajarnya selalu lancar dan damai. Kedua, banyak baca buku khususnya pelajaran yang bakal diujiankan besok (-__-). Kalau yang ini aku rasa semua juga lakuin. Iya, kan ? Hehehe.

Pas Ujian
Dapat dari Google. Hehe

Pertama, Baca doa terpisah. maksudnya, gak ikut berdoa secara berjamaah. Biasanya, aku lebih khusyuk dalam berdoa dan minta macam-macam sama Allah yang intinya permudahkanlah dan cepatkanlah. Kalau misalnya doa aku lebih cepat selesainya maka waktu yang ada aku gunain untuk komat-kamit ngulang pelajaran. Atau liat daun hijau, kenapa? karena menurut yang aku baca di internet, warna hijau itu bisa bikin mata rileks khususnya warna hijau uang. XD. Kedua, idealisme aku yang selalu dikatain sama teman-teman yang lain adalah 'Tidak memberi tahu dan tidak mencari tahu'. Maksudnya, Tidak memberi tahu jawaban pada orang lain namun juga jangan meminta jawaban sama orang lain. Sebenarnya idealime aku ini baik, ya kan ? Aku cuma mau berusaha sendiri sekaligus juga membuat orang lain berusaha sendiri. Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil). Oya, ada kejadian lucu tentang ini, pas hari kedua ujian temanku yang berinisial (NM) *alah... minta jawaban soal essay matematika nomor 1 (kalau gak salah). Aku pura-pura bertanya balik, "Nomor satu ya ?". "Iya" sahutnya. Dengan berpura-pura nulis jawaban, aku ambil selembar kertas dan tulis disitu besar-besar beberapa kata. Terus aku kasih sama dia dan dibaca. Sialnya dia baca tu kertas dengan sangat nyaring: "MAN JADDA WAJADA". Kontan satu ruangan tertawa ngakak. Wkwkwk.LOL. XD. Sejak itu aku kena teror Man Jadda Wajada. Dipanggil man jadda wajada sama yang lain, termasuk sama adek leting. Di dinding dekat aku duduk juga ada tulisan man jadda wajada. hah... ada-ada aja.


Abis Ujian
Abis ujian biasanya aku langsung tidur atau baca buku pelajaran yang bakal diujiankan besok. Gak banyak kebiasaan yang keren. Yang keren paling ganggu teman sekamar (yang udah siap ujian) lagi tidur.

So, intinya... Apa ya ? Perasaan gak da yang penting di postingan ni. Hm.. Oya, MAN JADDA WAJADA aja lah.
Selamat menikmati ujian sob.









Tentang Laskar Banda Raya

Kamu sedang mengunjungi blog resmi komunitas Laskar Banda Raya. Dibentuk pada tanggal 1 Februari 2013, komunitas Laskar Banda Raya bertujuan untuk mengikat dan mempererat ukuwah islamiah di antara santri Dayah Modern Darul Ulum yang berdomilisi di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Blog ini diciptakan sebagai tempat bertemu rakan dari Banda Aceh dan Aceh Besar di dunia maya. Namun, blog ini hanya sarana untuk 'merancang di dunia maya, berbakti di dunia nyata'

Follower

Popular Posts

Total Pageviews