Laskar Banda Raya Official Blog

Tempat bertemu dengan rakan Banda Aceh dan Aceh Besar !

-everything is a mirror-

"Semua orang yang ada dalam hidup kita, masing-masingnya -bahkan yang paling menyakiti kita- diminta untuk ada disana, agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka"
Inilah kisah yang dikisahkan Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa'. Adalah 'Uqail yang suatu hari didesak kebutuhan, mendatangi saudara kandungnya, 'Ali ibn Abi Thalib. "Aku ini," kata 'Uqail, "Adalah seorang yang memerlukan bantuan dan engkau telah mengetahui kefakiranku."

'Ali mengangguk. Ingin sekali dia membantu. Sayang, tak ada apapun ditangannya, tidak pula di rumahnya. "Bersabarlah," ujarnya,"Hingga gajiku dibayarkan dari Baitul Mal bersama dengan kaum muslimin lainnya. Saat itulah akan aku berikan padamu apa yang kau minta."

'Uqail tak sabar. Dia terus mendesak.

"Baik," kata 'Ali sambil memanggil salah satu pembantu dekatnya. "Bawalah 'Uqail ini," kata 'Ali padanya,"ke jajaran kios yang ada di pasar. Suruh dia mengambil apapun yang ada di sana!"

"Subhanallah!" pekik 'Uqail, "Apakah engkau menginginkanku menjadi seorang pencuri?"

"Apa bedanya itu dengan engkau yang mendesakku untuk mengambil harta kaum Muslimin lalu memberikannya kepadamu?"

"Kalau begitu aku akan menemui Mu'awiyah!"

"Terserah engkau!"

Saat itu,ketegangan antara Mu'awiyah di Syam dan 'Ali di Iraq terkait kepemimpinan kaum Muslimin sedang tinggi-tingginya. Setiap hal bisa menjadi ladang perebutan pengaruh di antara dua pihak. Tak mendapat apa yang dia mau dari 'Ali, 'Uqailpun menemui Mu'awiyah dan meminta harta kepadanya. Tanpa pikir panjang, Mu'awiyah memberikan padanya seratus dirham.

"Naiklah ke mimbar," kata Mu'awiyah pada 'Uqail setelah itu, "Dan sampaikanlah kepada khalayak seperti apa tanggapan 'Ali atas pintamu dan seperti apa perlakuanku padamu!"


  1. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”
    Kita pasti akan menjawab : “orang tua, guru, teman, kaum kerabat, pacar, anak, istri dsb”
    Semua jawaban itu benar. ‘Tetapi yg paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yg bernyawa pasti akan mati’ (Surah Ali-Imran :185).
  2. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”Kita pasti akan menjawab : ” negeri cina, bulan, matahari, bintang-bintang, galaksi, dsb” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, secanggih dan sehebat apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.
  3. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yang paling besar di dunia ini ?”Kita pasti akan menjawab : “Gunung,


Ada yang mengatakan bahwa amalan berikut termasuk amalan riya namun sebenarnya tidak demikian.
Pertama: Pujian manusia terhadap seseorang setelah orang tersebut melakukan amalan
Ada yang menanyakan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ’Bagaimana pendapatmu dengan orang yang melakukan suatu amalan kebaikan, lalu setelah itu dia mendapatkan pujian orang-orang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Itu adalah berita gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan’. An-Nawawwi Rahimahullah mengatakan, ‘Itu pertanda Allah ridha dan mencintainya. Akhirnya makhluk pun turut menyukai orang tersebut’.

AlFarabi
Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (870-950, Bahasa Persia: محمد فارابی ) atau Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi), juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir adalah seorang filsuf Islam yang menjadi salah satu ilmuwan dan filsuf terbaik di zamannya. Ia berasal dari Farab, Kazakhstan. Sampai umur 50, ia tetap tinggal di Kazakhstan. Tetapi kemudian ia pergi ke Baghdaduntuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun. Lalu ia pergi ke Alepo (Halib), Suriah untuk mengabdi kepada sang raja di sana.
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf YunaniPlatoAristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematikafilosofipengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Ia dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.


Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnahdaerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di HamadanPersia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).


Islamic Ukhuwah
Pada suatu hari,tiga orang berjumpa di salah satu sudut Madinah. Kisahnya jadi canda. Tapi begini keadaannya: yang pertama menebar kepedulian, yang kedua membagi kebijaksanaan, dan yang ketiga memberi damai dengan pemahaman serta pemaknaan. Itulah ‘Umar ibn Al-khattab berjumpa dengan Hudzaifah ibn Al-Yaman dan ‘Ali ibn Abi Thalib.
“Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Hudzaifah?” tanya Umar.
‘Wahai Amirul Mukminin,” jawabnya, “Pagi ini aku mencintai fitnah, membenci al-haqshalat tanpa berwudhu’, dan aku memiliki sesuatu di muka bumi yang tidak dimiliki Allah di langit,”
“Demi Allah,” kata ‘Umar, “Engkau membuatku marah!”
“Apa yang membuatmu marah, wahai Amirul Mukminin?” timpal ‘Ali ibn Abi Thalib

Tentang Laskar Banda Raya

Kamu sedang mengunjungi blog resmi komunitas Laskar Banda Raya. Dibentuk pada tanggal 1 Februari 2013, komunitas Laskar Banda Raya bertujuan untuk mengikat dan mempererat ukuwah islamiah di antara santri Dayah Modern Darul Ulum yang berdomilisi di seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Blog ini diciptakan sebagai tempat bertemu rakan dari Banda Aceh dan Aceh Besar di dunia maya. Namun, blog ini hanya sarana untuk 'merancang di dunia maya, berbakti di dunia nyata'

Follower

Popular Posts

Total Pageviews