Lihat dengan cermat anugerah Allah, berdayakan nikamt Allah. Gali kompetensi inti. "Sesungguhnya manusia itu tak lain seperti kawanan seratus ekor unta, hampir-hampir engkau tidak bisa menemukan di dalamnya seekor unta yang mampu menempuh perjalanan jauh" (HR.Bukhari). Dari 100 unta hanya satu intinya. Dari beragam potensi, hanya satu keunggulan yang dimiliki. GAli potensi dengan belajar, berlatih dan berjuang.Temukan bakat dan talenta dengan serius mengasah kemampuan. Ledakkan diri agar tidak gamang dalam melangkah, tidak gampang menyerah kalah, tidak merinding sebelum naik ring. Serius mensyukuri potensi bukan habis energi untuk menangisi yang telah pergi.
Ibnu Mas'ud yang kerdil dan kerempeng, kedua betisnya lebih berat daripada bukit Uhud. Rasulullah SAW bersabda, "Demi Zat yang jiwaku di tangan-NYa, sungguh kedua betisnya (Ibnu Mas'ud) itu lebih berat dalam timbangan akhirat daripada Gunung Uhud!" (HR. Ahmad).
Zubair bin Awwam kapasitasnya setara seribu tentara. "Saya mengirimkan bantuankepadamu sebanyak empat ribu pasukan di bawah komando empat orang komandan sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Mereka adalah Zubair bin Awwam, Ubadah bin As-Shamit, Al-Miqdad bin Aswad dan Maslamah bin Munkhalid."
Instruksi Khalifah Umar bin Khattab kepada Panglima Amru bin Ash ini adalah garansi potensi Zubair bin Awwam. Jiwanya selalu tertantang, mermeras pikiran, mengerahkan seluruh potensi untuk berada di atas masalah, menemukan celah, mencari cara untuk menang. Teratas karena berkualitas.
Kalau kita rindu surga, namun bagi Zubair justru surga merindukannya. Sehingga Nabi menaruh hati pada lelaki surga yang setia. Setiap ekspedisi selalu ia berpartisipasi. Setiap nabi menawari misi, Zubair terdepan unjuk jari. Potensinya terus berkembang, sebab Nabi mengapresiasi, menghargai, memberi penghormatan, melimpahkan kecintaan, dan mengabarkan kegembiraan padanya. "Sesungguhnya setiap nabi memiliki pengikut setia. Dan pengikut setiaku ialah Zubair bin Awwam."
Suaranya setara seribu tentara. Siapa dia? Bukan sekedar suara. Namun suara yang menggugah. Suara yang lebih dahsyat daripada seribu tentara. Abu Thalhah Al Ansari. Ini berdasar kesaksian NAbi, 'Sungguh suara Abu Thalhah di tengah pasukan perang lebih baik daripada seribu orang tentara" (HR. Ahmad dari JAbir bin Abdullah)
#The Way to Win, Sholikhin Abu Izzudin, hal.82 - 84